Subtitle Indonesia I Miss You Episode 16 - 21 ( Akhir )

Thursday, January 31, 2013

0 comments
Postingan subtitle Indonesia untuk drama I Miss You, akhirnya saya jadikan satu lagi, setelah ada yang koment, dikira saya gak memposting subtitle episode 16 sampai akhir. Karena sebelumnya saya hanya membuat postingan yang berisi subtitle sampai episode 15, padahal untuk episode 16 sampai 19, saya sudah mempostingnya menjadi per-episode. Tapi ya sudahlah, gak papa, saya membuat blog ini, intinya ingin berbagi, jadi gak ada salahnya buat saya memposting ulang, untuk mempermudahkan teman-teman.

Gak usah banyak omong lagi, bagi teman-teman yang ingin mendownload subtitle drama korea I Miss You silahkan klik LINK yang sudah saya sediakan dibawah ini.


Subtitle Indonesia I Miss You Episode 16 - 21







Sinopsis I Miss You Episode 21 ( Bagian 1 )

0 comments
Sinopsis I Miss You Episode 21 bagian 1, begitu menegangkan membuatnya, karena Jung Woo, SOo Yeon dan Hyung Joon berkumpul bersama di gudang tempat penyekapan SOo Yeon dan Jung Woo 14 tahun yang lalu. Hyung Joon yang emosi nya tidak stabil, memegang pistol yang terus dia arahkan pada JUng Woo dan SOo Yeon. Sampai pada akhirnya, Hyung Joon yang lepas kontrol langsung menembakkan pistolnya dan mengenai Jung Woo yang menyelamatkan SOo Yeon.


Sinopsis I Miss You Episode 21 ( Bagian 1 ) !!!

Jung Woo mendapat signal dari Soo Yeon, dia menyuruh Joo menyiapkan kendaraan dan mengikutinya, Jung Woo akan terus menyalakan ponselnya, agarJoo bisa melacaknya. 

Soo Yeon sudah berada di suatu tempat, dia merasa ketakutan saat mendengar suara langkah Hyung Joon. 

Jung Woo tiba di tempat, yang ditunjukkan dari signal yang didapat dari Soo Yeon. Ternyata tempat itu adalah gudang dimana dia dan Soo Yeon dulu di sekap.  Melihat gudang itu, Jung Woo teringat pada kejadian malam itu, dimana dia melihat Soo Yeon yang sudah tidak berdaya dan terus memanggilnya, bukannya datang menolong Soo Yeon, Jung Woo malah pergi meninggalkannya. 

Jung Woo berjalan mendekati gudang, dalam hati dia berkata, “aku memimpikan ini ribuan kali sebelumnya. Untuk mendapatkanmu, kembali lagi ke tempat ini.”

“Soo Yeon,” setelah menyebut nama Soo Yeon, Jung Woo langsung membuka pintu gudang, dan dia melihat Soo Yeon benar-benar ada di dalam gudang itu. Jung Woo dan Soo Yeon saling memandang satu sama lain. Ternyata di dalam gudang itu bukan hanya Soo Yeon, di samping sudah ada Hyung Joon yang memegang pistol. 
Hyung Joon melempar kotak kecil yang diberikan Jung Woo pada Soo Yeon, yang digunakannya untuk melacak keberadaan Soo Yeon. Jung Woo melihat Hyung Joon, dan Hyung Joon tanpa berbicara memberi isyarat pada Jung Woo untuk menutup pintu dan duduk di kursi yang sudah dia persiapkan.  Jung Woo mengikuti apa yang diperintahkan Hyung Joon.

Beralih pada ibu Soo yeon yang begitu senang memandangi foto Jung Woo  bersama dirinya dan Eun Joo, itu foto ketika Jung Woo berhasil lulus sebagai detektif. Ibu sangat bersyukur, karena Jung Woo sudah membawa Soo Yeon, putrinya kembali lagi padanya. Tiba-tiba telpon nya berdering.

Tae Joon, sudah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Tae Joon, marah pada Ketua Tim karena dia sudah beraninya menangkap seorang Han Tae Joon. Dengan sombong, Tae Joon mengatakan kalau pengacaranya akan mengurus semuanya.

Ketua Tim dengan tanpa takut mengatakan, “apa tak ada yang bisa kau lakukan selain bersekongkol dengan seorang pembunuh?  Putramu, Han Jung Woo...  pergi berurusan dengan orang itu dengan tangan kosong, untuk menyelamatkan Soo Yeon.  Jika terjadi sesuatu pada Soo yeon maupun Jung Woo, kau yang bertanggung jawa karena membunuh mereka, kau tahu!” 

Tepat pada saat ketua Tim mengatakan itu, ibu Soo Yeon datang dan mendengar semuanya. Tanpa rasa bersalah, tae Joon mengatakan kalau Ketua Tim sendiri yang tidak bisa menemukan satu orang yang sedang terluka, “siapa yang kau coba salahkan?! PANGGIL KEPALA POLISI! Bilang padanya Han Tae Joon memanggilnya!” 
Ibu Soo Yeon berjalan men dekati, untuk melihat Han Tae Joon. Melihat  Ibu Soo Yeon datang, Ketua Tim langsung beranjak dan bertanya kenapa Ibu Soo Yeon ada di kantor polisi. Masih dengan pandangan mellihat ke arah Tae Joon, ibu menjawab kalau dia ingin tahu kabar  Soo Yeon, “karena aku kebetulan lewat kantor polisi, kupikir aku bisa masuk dan bertanya. Apa mungkin aku sudah salah dengar? Orang ini, “sambil menunjuk Tae Joon. “orang ini mencoba menyakiti Soo Yeon ku dan Jung Woo lagi? “

Merasa Ibu Soo Yeon mulai emosi, Ketua Tim langsung mengajaknya untuk bicara dan pergi dari hadapan Tae Joon. Namun Ibu Soo yeon menolak, dia melepaskan pegangan Ketua Tim. Terus menatap kearah Tae Joon, tiba-tiba ibu mencengkram baju Tae Joon dengan kuat, “kembalikan anak-anakku! ... kembalikan anak-anakku”.

Tak tahan lagi, diperlakukan seperti itu, Tae Joon bangkit dengan marah, “apa yang kau lakukan, tak membawanya pergi?! “ tanya Tae Joon pada Ketua Tim.

Ketua Tim berusaha menjelaskan pada Ibu kalau orang yang ada dihadapannya itu adalah ayah Han Jung Woo. Mendengar itu, kemarahan ibu semakin menjadi, dia mengatakan kalau Jung Woo tidak mempunyai orang tua, “Jung Woo... adalah putraku yang kubesarkan selama 14 tahun! “

Tae Joon hanya menanggapinya dengan tertawa kecil. Ibu tak terima, “kau tertawa? Kau berani tertawa? Kau orang yang menyatakan putriku sudah matii! Selama 14 tahun, aku hidup menderita dengan hati terkoyak-koyak! Apa kau tahu apa yang terjadi pada putriku?! Apa yang sudah dia alami? Bagaimana Jung Woo ku harus hidup karena ulahmu? KAU TERTAWAKAN!” Ibu benar-benar emosi dan berusaha mencengkram Tae Joon lagi. Tae Joon juga tidak senang diperlakukan seperti itu oleh ibu, dia juga marah.

Ketua Tim berusaha menahan ibu, dan Tae Joon di bawa pergi oleh polisi yang lain. Walaupun Tae Joon sudah pergi, ibu tetap saja berteriak-teriak mengatai Tae Joon. Ketua Tim terus berusaha menenangkannya dengan memeluk ibu. 

(hmmmmm... ketua Tim ini dah nikah lom sih, kalo belo... cocok tuh ma ibu Soo Yeon, hehehhe)
Kembali ke gudang, Soo Yeon dan Jung Woo saling menatap, sedangkan Hyung Joon merasakan sakit di kakinya tapi dia tetap menyembunyikan rasa sakitnya. Hyung Joon akhirnya memulai bicara dengan menanyakan pada Jung Woo bagaimana rasanya kembali lagi ke tempat kejadian malam itu? 

“Kang Hyung Joon, apa ini akhir yang kau inginkan? Mengungkit masa lalu kami yang pahit, itu tujuan akhirmu?” tanya Jung Woo.
“sepertinya kau lupa, dan terlebih lagi bagi Zoe. Kau memaafkan Han Jung Woo yang meninggalkanmu dan kabur melarikan diri? APA KAU MENCINTAINYA?!” bentak Hyung Joon.
Soo Yeon baru sadar kalau dia sedang berada di gudang, dimana tempat dia dan Jung Woo disekap dulu. Soo Yeon langsung teringat pada suara siulan Sang Deuk, dan ketika Sang Deuk yang mabuk  lalu mendekatinya dan menariknya. Soo Yeon mulai merasa ketakutan mengingat semua itu. Dia langsung menunduk.
Melihat Soo Yeon seperti itu, Jung Woo meminta Soo Yeon untuk mengangkat kepalanya. Hyung Joon yang berhasil membuat Soo Yeon ketakutan, juga ikut-ikut menyuruh Soo Yeon mengakat kepalanya. 

“Dia pria yang meninggalkanmu dan melarikan diri. karena pria seperti dia, KAU MENCAMPAKKANKU?!” bentak Hyung Joon, yang tambah membuat Soo Yeon ketakutan.

 Jung Woo lalu meminta Soo Yeon untuk melihat ke arahnya, “Aku bukan Han Jung Woo berusia 15 tahun. Lihat aku! Aku takkan meninggalkamu apapun yang terjadi. Angkat kepalamu LEE SOO YEON!” pinta Jung Woo.

Perlahan-lahan Soo Yeon mengangkat kepalanya dan melihat Jung Woo, tapi ingatannya kembali saat Jung Woo muda, ketakutan melihatnya dan akhirnya Jung Woo berlari meninggalkannya. Sedangkan soo Yeon terus memanggil-manggil nama Jung Woo. Ingatan itu kembali membuat Soo Yeon ketakutan, bahkan tambah ketakutan, sampai-sampai dia berusaha menutupi tubuhnya. 

Melihat Soo Yeon yang seprti itu, Hyung Joon tersenyum senang.
“hari itu, kedua kaki dan tanganku terikat. Apa yang kulihat ketika mulutku ditutup rapat dengan lakban. Itulah tepatnya.” Ucap Jung Woo pada Hyung Joon. “air mata Soo Yeon. Kejadian dimana di hari itu diperlakukan dengan tidak adil dan dipermalukan! Aku merasa seperti mau mati karena marah setiap kali ingatan itu kembali! “ Jung Woo beralih pada SOO Yeon, “Soo Yeon, aku yang tak bisa melakukan apapun. Aku yang melarikan diri hari itu, begitu memalukan sampai aku merasa mau mati.”

Mendengar semua itu, perlahan-lahan Soo Yeon mengangkat kepalanya dan melihat Jung Woo, “Jung Woo..”

Setelah Jung Woo berhasil membuat Soo Yeon mempercayainya kembali, “Kang Hyung Joon, lihatlah. Apa air mata Soo Yeon berhenti mengalir karena kau sudah membunuh Kang Sang Deuk? Apa hal yang sudah terjadi hilang begitu saja? Kang Hyung Joon, kau bodoh! Sudah kubilang, ketika kau membenci ayahku, kau kehilangan Soo Yeon karenanya, dan kali ini karena aku? Karena kau begitu membenciku, kau melukai Soo Yeon lagi. Kau.. membuat kesalahan lagi. Tak usah mengungkit masalah itu, dia pria yang meninggalkanmu, kau seharusnya membenci pria itu! Bahkan kalau kau tidak menunjukkan padanya seperti ini, aku sendiri, dengan kesadaranku sendiri, masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Hentikan OMONG KOSONG ini!” Jung Woo langsung berdiri karena emosi.

“TIDAK,” Hyung Joon tidak mau Jung Woo menangkapnya, dia langsung mengarahkan pistolnya pada Soo Yeon. Soo Yeon kontan saja langsung ketakutan, dan Jung Woo hanya bisa mematung, tak bisa berbuat apa-apa.
“Baiklah, semua ini tak ada gunanya. Kau sendiri yang bilang sudah waktunya untuk berhenti. Soo Yeon...  sekarang lihatlah aku. Maafkan aku juga. Aku tak mau sendiri. Aku takut. Aku jga tak mau terkurung di penjara. Terlalu menyesakkan. Aku begitu merindukanmu sampai aku tak bisa bernafas. Kumohon. Lihatlah aku.... Soo Yeon. “ Hyung Joon terus memohon Soo Yeon untuk melihatnya, berbeda dengan Jung Woo, Hyung Joon meminta Soo Yeon sambil menodongkan pistol padanya.
Dan itu membuat Soo Yeon tak berani melihat Hyung Joon, Soo Yoen terus melihat ke arah Jung Woo.
Hyung Joon kemudian mengulurkan tangan satunya untuk menyambut Soo Yeon, “Soo Yeon, kemarilah.... kemarilah Soo Yeon.” Akhirnya Soo Yeon melihat Hyung Joon. “Kemarilah Zoe.” 
Soo Yeon bingung harus berbuat apa, ditambah lagi, dia mendengar suara sirine, yang berarti tempat itu sudah dikepung oleh polisi. Para polisi berjaga-jaga di luar dan tetap memantau apa yang terjadi di dalam gudang, dengan cara memasukkan kamera ke dalam gudang.
Didalam gudang, Jung Woo meminta Hyung Joon menurunkan pistolnya. Jung Woo berusaha membujuk Hyung Joon dengan mengatakan kalau HyungJoon seperti itu akan membuat Soo Yeon takut. Dengan tiba-tiba Hyung Joon mengarahkan tembakannya ke samping Jung Woo, dan itu membuat semuanya terkejut. 

“Aku sedang bicara dengan Zoe sekarang! Jangan ikut campur!” Hyung Joon beralih ke Soo Yeon dan memanggilnya.
“Kenapa kau masih belum membunuhku?” tanya Jung Woo, mendengar itu Soo Yeon langsung memanggiilnya. 
“apa, karena aku keluarga? Namun kenapa kita tak pernah bertemu satu sama lain? Apa karena Han Tae Joon?” tanya Jung Woo lagi.
“Kau baru sadar? Semua ini disebabkan Han Tae Joon. Kau benar.” Ucap Hyung Joon.

Jung Woo mengakui kalau dia juga tak bisa memaafkan ayahnya, “apa karena itu, kau tak menganggapku? Karena kau merasa kasihan pada putra dari orang seperti itu? “
Hyung Joon tersenyum, dan menyuruh Jung Woo untuk berhenti bermain-main, karena selama hidupnya Hyung Joon  selalu berbohong untuk bertahan hidup, jadi dia tidak akan terpancing dengan kebohongan kekanak-kanakan Jung Woo. Hyung Joon terus merasakan sakit pada kakinya, kaki yang terkena tembakan polisi saat akan menangkapnya.
Dengan memelas Hyung Joon mengatakan pada Soo Yeon, kalau dia kesakitan, “aku bermimpi kembali ke Perancis bersamamu. Meskipun kau tak men cintaiku, tapi aku tetap saja bahagia. Aku ingin kembali”
Soo Yeon yang dari tadi diam, dan ketakutan, akhirnya buka suara, “itu karena bukan cinta yang kau inginkan. Aku selama ini selalu mencintaimu. Kita bagaikan keluarga bagi satu sama lain. Aku tak berfikir kalau semua yang ada padamu itu bohong. Harry.... aku juga pembohong. Aku sering berbohong padamu. Berpura-pura melupakan semuanya. Berpura-pura kalau aku tak merindukan siapapun. Bagi seseorang yang bermental tajam sepertimu, berpura-pura lupa pasti sulit bagimu. Maafkan aku.”

Hyung Joon menghela nafas. Jung Woo melihat kalau dibelakang Hyung Joon ada sinar merah yang berarti di luar sana sudah disiapkan polisi yang bertugas untuk  menembak Hyung Joon. Hyung Joon yang belum menyadari itu, bertanya pada Soo Yeon, kenapa Soo Yeon begitu takut padanya? Karena walau dia sudah membunuh orang lain, dia tidak akan sanggup membunuh Soo Yeon. 

Soo Yeon langsung meminta Hyung Joon meletakkan pistolnya. Hyung Joon mengatakan kalau itu sudah terlambat. Dengan tongkat yang Soo Yeon buatkan untuknya, Hyung Joon mengatakan dia ingin pulang ke rumah, dimana mereka tinggal bersama dulu. Hyung Joon melihat ke tongkatnya, dan disana akhirnya Hyung Joon melihat sinar merah itu juga. Hyung Joon sadar kalau dia sudah dikepung.
Jung Woo langsung mengajak Hyung Joon untuk keluar bersama, karena kalau Hyung Joon terus keras kepala, Soo Yeon akan dalam bahaya. Dengan emosi yang memang tidak stabil, sekali lagi Hyung Joon mengarahkan pistolnya pada Soo Yeon  dan menyuruh Jung Woo keluar. 

“katamu seseorang tak bisa berada di surga sendirian. Soo Yeon akan pergi denganku.” Hyung Joon berjalan mendekati Soo Yeon, dan langsung mengarahkan pistolnya ke kepala Soo Yeon. Jung Woo panik, begitu juga Joo yang berada di luar, dia langsung meminta pada polisi juru tembak untuk menahan tembakannya, karena Joo percaya Jung Woo bisa mengatasinya. 

“Han Jung Woo, aku selalu iri padamu. Jadi untuk terakhir kali, akan kuhitung sampai 3” ucap Hyung Joon.
“Jung Woo!, “Soo Yeon benar-benar ketakutan.
Jung Woo berjalan mendekat dan menghalangi Hyung Joon sebagai target penembakan. Sepetinya Jung Woo masih berusaha melindungi Hyung Joon.
“Kau hanya iri pada hal baik yang kumiliki? Kakiku yang bisa berlari. Kalau begitu ayahku, bagaimana dengan Han Tae Joon? Aku ditinggalkan oleh ibuku. Aku... bahkan tak tahu wajah ibuku. Bahkan jika kau menembak Soo Yeon, dan membunuhnya, cinta kami takkan berakhir. Rindu dan hasrat untuk itu akan membuatnya semakin dalam. Biarpun begitu, tak masalah dengan mu? “ Ucap Jung Woo.
Mendengar semua itu, Hyung Joon langsung mengarahkan tembakan pada Jung Woo, dengan cepat Soo Yeon langsung beranjak dan berdiri di depan Jung Woo. Baik Jung Woo dan Hyung Joonterkejut dibuatnya.
“Jung Woo terima kasih sudah menungguku sampai saat ini. Kali ini, aku akan pergi duluan dan menunggumu. Joon-ah... aku sangat menyukaimu.
Tapi beginikah cinta itu?” Soo Yeon berjalan mendekati Hyung Joon, dan mengarahkan pistol Hyung Joon ke dadanya. “Jangan sakiti Jung Woo”
Hyung Joon mundur, “tidak... tidak...! BOHONG!” Hyung Joon yang emosi langsung menembakkan pistolnya, dengan cepat Jung Woo langsung menarik Soo Yeon dan menggantikan posisinya, sehingga Jung Woo lah yang terkena tembakan Hyung Joon.
Jung Woo langsung terjatuh, dan Soo Yeon terus memanggil-manggil Jung Woo, “tanpa jung Woo apa yang harus kulakukan?”

Hyung Joon yang menyadari pada apa yang baru saja dia lakukan, langsung berusaha melepaskan pistol ditangannya, tapi karena pistol itu diikat ke tangannya jadi dia tidak bisa melepaskannya. Tepat pada saat itu semua polisi masuk ke dalam gudang. 

Melihat banyak polisi yang masuk, dan Soo Yeon yang begitu ketakutan kehilangan Jung Woo, membuat Hyung Joon mengarahkan pistolnya kekepalanya sendiri. 

“Zoe, aku juga... aku juga bisa... bisa mati untukmu... jika ini jenis cinta yang kalian bicarakan. Aku bisa mati untukmu juga!” Walau Hyung Joon sudah berkata seperti itu, Soo Yeon tak sedikitpun melihat ke arahnya, Soo yeon hanya terus menangis memanggil-manggil Jung Woo.
“Tapi kau bahkan tak memberiku kesempatan. Lihat aku sekarang. Kumohon lihat aku! “ teriak Hyung Joon. Tapi tetap saja Soo Yeon tidak memperdulikanya, Soo Yeon malah meminta bantuan untuk menolong Jung Woo. 

Hyung Joon menyerah dan akhirnya dia menurunkan pistolnya. Tapi melihat Soo Yeon yang terus tak perduli padanya, Hyung Joon pun langsungmengarahkan pistolnya ke kepalanya lagi, namun dengan cepat polisi menembak tangan Hyung Joon untuk mencegah Hyung Joon melakukan bunuh diri. 
Tapi karena Hyung Joon dari awal memang sudah terluka, sudah tertembak di kakinya, Hyung Joon pun akhirnya terjatuh. Sebelum pingsan,  Hyung Joon berkata, “Embrasse moi” (cium aku, bahasa Perancis).
Beralih ke Jung Woo yang masih setengah sadar, dia teringat percakapannya dengan Soo Yeon.
Maafkan aku..”
Untuk apa? “tanya Jung Woo. “kau tahu kan? Aku menangis bukan karena sedih, tapi karena angin yang  berhembus

Setelah itu Jung Woo juga tak sadarkan diri.


Sinopsis I Miss You Episode 20 ( Bagian 2 )

0 comments
Sinopsis I Miss You episode 20 bagian 2, kita akan melihat bagaimana Soo Yeon melamar Jung Woo, mungkin karena Jung Woo terlalu lama, maka SOo Yeon memberanikan diri untuk melamar Jung Woo, bahkan SOo Yeon sudah mempersiapkan cincin pernikahan untuk mereka. Dan mereka berencana menikah pada hari dimana salju turun untuk yang pertama kali musim ini.



Sinopsis I Miss You Episode 20 ( Bagian 2 ) !!!

Keesokan harinya, Soo Yeon  sudah kembali bekerja di Butik Mi Ran, dia di jaga oleh Joo. Soo Yeon tengah sibuk bekerja, dan Joo terus berbicara pada Soo Yeon, dia meminta Soo Yeon mengenalkan dirinya dengan seorang model, karena Soo Yeon adalah seorang desainer maka dia pasti banyak kenal dengan para model. Setelah itu mereka bisa melakukan double date, Soo Yeon dengan Jung Woo dan Joo dengan seorang model.

Soo Yeon sempat diam sebentar, namun akhirnya dia mengiyakan dan itu membuat Joo senang. Kemudian Joo mengatakan kalau mereka harus menangkap Hyung Joon terlebih dulu agar mereka bisa berkencan dengan tenang. Joo merasa kalau Hyung Joon berada di sekitar butik. Mendengar itu, Soo Yeon terlihat sedikit takut. 

Tepat saat itu, Mi Ran datang bersama Ah Reum.
Soo Yeon menyapanya dan Mi Ran langsung membahas kalau mereka harus menyiapkan peluncuran busana, sampai Ahreum mengingatkan ibunya untuk meminta maaf kepada Soo Yeon. 

Mi Ran menjawab, “bagaimana juga... karena aku masih hidup... Zoe juga... maksudku Soo Yeon juga masih hidup,” Mi Ran meraih tangan Soo Yeon, “Mari kita melakukan yang terbaik mulai sekarang.”

Joo yang berdiri disamping Soo Yeon, lalu memperkenalkan dirinya pada Mi Ran, dia mengatakan kalau dia adalah detektif yang pernah datang untuk mendapatkan pernyataan dari Mi Ran. Mi Ran mengenalnya sebagai senior Jung Woo, setelah mengucapkan terima kasih, Mi Ran langsung menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Walaupun begitu, Mi Ran tidak bisa menyembunyikan rasa canggung dan bersalahnya terhadap Soo Yeon.

Setelah Mi Ran naik ke kantornya, Ah Reum berusaha menjelaskan pada Soo Yeon, kalau ib unya bersikap seperti itu karena dia merasa bersalah. Soo Yeon mengerti. Ah Reum akhirnya mengakui pada Soo Yeon kalau dirinya adalah penggemar Soo Yeon, karena dia sering mendengar nama Soo Yeon dari kakaknya sejak dia masih kecil. 

Ah Reum kemudian memperkenalkan dirinya, sebagai adik Jung Woo, Soo Yeon pun membalas dengan menyebut namanya, Lee Soo Yeon. 
Soo Yeon berada di kantornya sendirian, dia membuka kotak perhiasan yang didalamnya sudah terpasang dua cincin. Dia mengatakan pada dirinya sendiri kalau  tidak ada yang salah jika seorang wanita yang melakukannya duluan. 
Tiba-tiba Jung Woo datang, dan Soo Yeon dengan cepat menyembunyikan kotak cincinnya di balik syal merah miliknya, dia berusaha bersikap biasa saja. Soo Yeon lalu bertanya, kenapa Jung Woo datang, bukan kah Jung Woo sedang sibuk?

Jung Woo menjawab kalau  ada sesuatu yang penting yang harus dia lakukan. Dia lalu mengeluarkan payung kuning milik Soo Yeon yang masih ada lebel namnya, Jung Woo menceritakan kalau saat dia membuat nametaq itu, jantungnya berdebar kencang.

“aku kebasahan dalam perjalanan pulang karena payung ini rusak, tapi rasanya sangat menyenangkan. Memberikan satu-satunya payungmu disaat hari sedang hujan, itu sama saja dengan memberi segala yang kau miliki kan?” Soo Yeon hanya terdiam mendengarkan Jung Woo berbicara. “Kita harus ajarkan itu pada anak kita ketika dia lahir. Karena seperti itulah cara mencintai seseorang”

“Ooh?” Soo Yeon terkejut mendengar apa yang Jung Woo katakan.
Jung Woo lalu berlutut di depan Soo Yeon, “Lee Soo Yeon, satu-satunya... kekasih kelinci gila, Cinta pertama Han Jung Woo... “ Jung Woo kemudian mengambil sesuatu dari dalam jasnya, dan ternyata itu adalah kotak cincin yang sudah dia persiapkan untuk Soo Yeon, melihat itu Soo Yeon terkejut. 
“Menikahlah denganku,” Soo Yeon tambah dibuatnya terkejut, “ketika musim salju tiba.... pada hari pertama salju turun.... “
Soo Yeon tersenyum dan berkata, “kuharap salju pertama segera turun....”

Jung Woo lalu melepas cincin dari kotaknya dan menyematkannya di jari Soo Yeon. Soo Yeon terlihat sangat senang. Jung Woo hendak mencium Soo Yeon, namun Soo Yeon menghentikannya. Sedikit ragu dan gerogi, Soo Yeon langsung mengambil kotak cincin miliknya yang sudah dia sembunyikan sebelumnya. 

Jung Woo membuka kotak itu, dan melihat ada dua cincin didalamnya, dia terkejut mengetahui kalau Soo Yeon sudah mempersiapkannya terlebih dulu. Soo Yeon sudah mempersiapkan cincin pernikahan mereka.
Tanpa banyak bicara, Soo Yeon langsung memeluk Jung Woo, “cincin yang sudah kusiapkan.... mari kita pakai saat upacara pernikahan kita. Hari ini, cukup sampai disini.”

“jika aku telat selangkah, aku pasti berada dalam masalah.” Ucap Jung Woo sambil mempererat pelukannya. Sedangkan Soo Yeon terus tersenyum sambil melihat cincin yang sudah terpasang ditangannya.

“Lee Soo Yeon!” terdengar suara Joo yang langsung masuk ke ruangan Soo Yeon. Melihat Soo Yeon dan Jung Woo sedang berpelukan, Joo merasa tidak nyaman, dan langsung berkata, “aigooo perutkuuu... oh perutku...”

Soo Yeon dan Jung Woo langsung melepas pelukan mereka dan berdiri. Jung Woo langsung memamerkan pada Joo, cincin pemberian Soo Yeon, dan mengatakan kalau Soo Yeon sudah memintanya untuk menikahinya. 
Soo Yeon yang malu langsung merebut cincin darinya. Mengubah topik, Joo mengatakan kalau kakek Choi ingin bertemu dengan Soo Yeon. 
Jung Woo bertanya, kenapa? Tapi bukannya menjawab, Joo malah menyindir Jung Woo kenapa ada di tempat Soo Yeon, bukannya Jung Woo mendapat tugas untuk mencari tempat persembunyian Hyung Joon. Jung Woo menjawab, kalau dia sudah berusaha mencarinya, dia juga sudah pergi ke rumah kakeknya, tapi ternyata rumah kakeknya sekarang sudah berubah menjadi lapangan golf. Jung Woo akan terus berusaha mencari kebaradaan Hyung Joon.

Jung Woo melihat Soo Yeon, dan dia melakukan kontak mata dengan Soo Yeon. Melihat itu Joo tak tahan lagi, dia langsung mengeluh sakit perut lagi, dan mengajak Soo Yeon pergi. Sebelum pergi, Jung Woo memberikan pada Soo Yeon sebuah kotak kecil yang disebutnya sebagai asisten Jung Woo, dia menyuruh Soo Yeon membawanya kemanapun dia pergi, karena dengan alat iitu, Jung Woo dapat melacak keberadaan Soo Yeon. Setelah itu, Jung Woo juga memberikan kecupan di pipi Soo Yeon. 
Jung Woo sudah berada di depan rumah lama Soo Yeon. Dia teringat, saat pertama kali dia mengantarkan Soo Yeon pulang ke rumah. Dimana saat itu dia mengatakan pada Soo Yeon kalau rumahnya jauh lebih besar dari rumah Soo Yeon, namun sangking besarnya, di dalamnya  berangin, dan itu menyebabkan Jung Woo menangis. 

Jung Woo datang ke tempat itu bersama Ketuan Tim dan detektif lainnya. 
Berlaih ke ruang interogasi, dimana Joo mempertemukan Soo Yeon dengan Yoon. Yoon tidak mengakui kalau dia mengenal orang yang bernama Kang Hyung Joon.  

Soo Yeon menjelaskan kalau itu adalah orang yang meminta Yoon untuk membunuh orang, “dia bahkan tidak memberitahu namanya padamu?”
Yoon masih terus melihat Soo Yeon dengan tatapan kebencian. Joo menambahkan kalau Kang Hyung Joon, orang yang Yoon lindungi, sekarang sudah tersudut, “jika ada yang tidak beres, situasi yang mematikan bisa terjadi. Kau mengerti apa yang kukatakan kan?”

Soo Yeon menebak kalau Yoon pasti tahu dimana keberadaan Hyung Joon. Dengan nada tidak senang Yoon berkata, “’apa kau pikir aku akan memberitahumu? Kau mungkin sudah meninggalkannya. Aku.... takkan meninggalkannya”

Soo Yeon cepat meralat, dan bertanya appakah Yoon pernah berfikir kalau Yoon lah yang sudah ditinggalkan oleh Hyung Joon, “kau sedang menunggunya, tapi dimana Joon?”
Beralih ke Jung Woo yang sudah berada di depan kontrakan Perawat Hye Mi dulu. Kontrakan itu sama seperti sebelumnya, dalam keadaan digembok. Jung Woo melihat ke dalam ruangan melalui jendela. Di dalam dia melihat gambar yang dibuat oleh Hyung Joon, berbeda dengan gambar sebelumnya yang merupakan gambar ibu dan anak, kali ini Hyung Joon menggambar gambar dia dan Soo Yeon kecil. Benar apa yang di terka Jung Woo kalau obsesi Hyung Joon sudah beralih pada Soo Yeon.

Kembali ke ruang interogasi, Yoon bertanya dengan marah, apakah Soo Yeon disuruh oleh Jung Woo untuk mendekatinya dan mencari tahu di mana keberadaan Hyung Joon.  Soo Yeon langsung membantahnya, “aku tidak melakukan sesuatu karena disuruuh, tidak sepertimu. Dan lagi, aku tidak membunuh orang karena aku dipukuli oleh orang tuaku. Itulah perbedaan antara orang seperti dirimu, yang melakukan tindak kriminal denganku. Apa gunanya mendapat kebebasan setelah melakukan kekerasan?  Dia bilang melakukan kekerasan akan membebaskanmu. Tapi kekerasan yang lebih banyak,,,, bukan hanya itu....  dia bahkan membuatmu membunuh. .. lalu... dia melarikan diri... “

“Dia akan datang menyelamatkanku...” bantah Yoon berulang-ulang dengan marah.

Jung Woo membuka gembok tempat persembunyian Hyung Joon dengan tang. Dia membukanya dengan paksa, sama seperti saat dia membuka pintu itu saat akan menyelamatkan Hyung Joon yang terjebak kebakaran. 
Jung Woo berhasil membukanya dan dia langsung masuk ke ruangan itu. Tapi di dalam sudah tidak ada siapa-siapa, dia duduk untuk melihat dengan jelas gambar yang dibuat Hyung Joon, tepat disaat itu Jung Woo mendengar suara langkah Hyung Joon. Jung Woo sengaja hanya berdiam diri, dia sengaja menunggu Hyung Joon di dalam. Namun bukannya masuk ke dalam, Hyung Joon malah mengunci Jung Woo dari luar. Jung Woo langsung berusaha membuka paksa pintunya namun tidak berhasil.

 “senang bertemu dengan mu lagi, ” Sapa Jung Woo saat melihatnya dari jendela. “aku tak tahu kalau kau bersembunyi disini”
“Jika Zoe datang, itu akan lebih baik lagi.” Ucap Hyung Joon.
Jung Woo meminta Hyung Joon membukakan pintunya, “kau ingat dulu aku membukakan pintu itu untukmu, kan?”

Tentu saja Hyung Joon masih mengingatnya, karena itulah dia selalu mengatakan kalau dia tidak pernah membenci Jung Woo dari awal. Jung Woo pun langsung meminta Hyung Joon untuk tidak melarikan diri lagi.  Tidak menjawab permintaan Jung Woo, Hyung Joon langsung mengatakan kalau yang dia inginkan adalah bertemu dengan Soo Yeon. 
Jung Woo menawarkan kalau Hyung Joon mau mengikutinya, maka Hyung Joon bisa bertemu dengan Soo Yeon, karena dibanding dengan polisi lain, lebih baik dia yang menangkap Hyung Joon. 
“Sekarang, kau tidak memanggilku “bocah” lagi. Apa sekarang kau tahu... apa penyebab semuanya ini? Kau tak mengenalku kan? Kita seharusnya, saling mengenal dengan lebih baik. ini semua karena Han Tae Joon.” 

Jung Woo langsung membantah dan meminta Hyung Joon untuk tidak menyalahkan siapa-siapa, dan mulai sekarang mereka bisa memulai semuanya dari awal.” Jung Woo kemudian mengajak Hyung Joon pergi bersama dengan nya.

Dengan cepat Hyung Joon langsung menutup jendela dan berkata, “bawa Zoe! Dengan begitu aku takkan membencimu lagi,” kemudian Hyung Joon pergi.

Jung Woo membuka jendelanya lagi dan terus memanggil Hyung Joon, namun Hyung Joon terus pergi meninggalkan Jung Woo yang terkurung.  Dengan emosi Jung Woo mendobrak pintu, dan akhirnya berhasil terbuka.
Bersama dengan Ketua Tim dan detektif lainnya, Jung Woo mencari Hyung Joon. Dengan petunjuk suara langkah tongkat hyung Joon, Jung Woo terus mencarinya. Jung Woo dan ketua Tim berpisah, mereka mencari di arah yang berlainan.  Jung Woo menemukan Hyung Joon, dari arah berlawanan polisi lainnya juga datang.
Posisi polisi lainnya lebih dekat dengan Hyung Joon, dan mereka langsung menodongkan pistonya, awalnya Jung Woo mencegah mereka untuk menembak, namun karena Hyung Joon berusaha melarikan diri, polisi itu langsung menembak kaki Hyung Joon. 
Dengan kesakitan, Hyung Joon berusaha masuk ke mobilnya dan langsung melarikan diri. 
Berhenti di suatu tempat, Hyung Joon menangis  bercampur tertawa di dalam mobilnya. Dia lalu melihat tangannya yang penuh dengan darah, sambil menangis.
Dalam keadaan seperti itu, Hyung Joon teringat masa-masa bahagia dia bersama dengan Soo Yeon saat di Perancis. Saat itu, Hyung Joon masuk ke kamar Soo Yeon dan mengajak Soo Yeon minum bersama, awalnya Soo Yeon menolak karena dia sedang sibuk mengerjkan desainnya. 

Soo Yeon menyuruh Hyung Joon kembali ke kamarnya, karena kalau Michelle tahu, Hyung Joon masuk kekamarnya, Soo Yeon bisa mati. Hyung Joon terus menyuruh Soo Yeon untuk minum anggur, seteguk saja. Akhirnya Soo Yeon menurutinya, dia minum seteguk, dan berkomentar kalau rasanya enak. Hyung Joon akan mengambil kembali minumannya, namun Soo Yeon menahannya, dan meminumnya lagi.
“Semalam kau bermimpi buruk lagi kan?” tanya Hyung Joon.

“apa kau mendengarnya?”  
“akhir-akhir ini kau agak pendiam, tapi siapa sebenarnya? Orang yang menyiksamu dalam mimpimu.”
Soo Yeon menjawab kalau dia tidak tahu, karena itu Cuma mimpi. Hyung Joon menawarkan diri untuk melenyapkannya dengan tongkatnya.  Soo Yeon membenarkan, karena Hyung Joon bisa melakukan apapun dalam mimpinya.

“ada 6, moster dalam mimpiku, mereka terus menerus mau memberitahumu tentang rahasiaku”

“apa rahasiamu?” tanya Soo Yeon.

Hyung Joon memberikan tanda diam dan menarik Soo Yeon untuk lebih mendekatkan telinganya. Soo Yeon menunggu Hyung Joon mengucapkan rahasianya.

“itu.... rahasia...” ucap Hyung Joon yang langsung menutupi Soo Yeon dengan selimut. Soo Yeon berusaha melepaskan diri dan setelah dia berhasil melepaskan diri, Soo yeon membalas melakukan hal yang sama dengan menutupi Hyung Joon dengan selimut. 

Namun karena Hyung Joon mengeluh sakit pada kakinya, Soo Yeon pun melepaskannya, tapi ternyata Hyung Joon berbohong. Saat Soo Yeon membuka selimut, Hyung Joon dengan cepat menutupi Soo yeon dengan selimut lagi. Mereka terlihat begitu bahagia.

Kembali pada Hyung Joon yang termenung di dalam mobilnya. Tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya. Hyung Joon membukakannya, dan orang itu memberikannya sebuah bungkusan, dan Hyung Joon memberikannya juga sebuah bungkusan yang sepertinya adalah uang.
Hyung Joon membuka bungkusan itu, dan ternyata isinya adalah pistol. Hyung Joon membeli pistol dari pasar gelap.

Jung Woo menelpon Joo yang masih bersama dengan Soo Yeon di butik Mi Ran. Jung Woo memberitahu Joo kalau Hyung Joon terluka, karena dia terkena tembak di kakinya. Joo menyarankan JungWoo untuk mencarinya di rumah sakit kecil, karena kecil kemungkinan, Hyung Joon akan datangke rumah sakit besar. 

Mendengar Hyung Joon tertembak, Soo yeon yang sudah kembali bekerja, jadi tidak konsen, dan tanpa sengaja  jarinya tertusuk jarum.  

Setelah menutup telepon dari Jung Woo, Joo mengatakan pada Soo yeon kalau dia akan keluar sebentar untuk mengecek situasi. Dan Soo Yeon tidak perlu khawatir karena banyak polisi yang akan menjaganya.  Baru akan pergi meninggalkan Soo Yeon, langkah Joo terhentikarena mendengar ponsel Soo Yeon berbunyi. 

Joo langsung mendekati Soo yeon, dan Soo yeon mengatakan kalau nomor yang menelponya itu, tidak dia kenal. Joo mengira kalau yang menelpon Soo Yeon adalah Kang Hyung Joon. Karena itu, Joo menyuruh Soo Yeon menjawab teleponnya dengan tenang. 
Soo yeon mengangkat teleponnya, dan Joo berusaha mendengarkannya disamping. Bertapa terkejutnya Soo Yeon saat ,mengetahui kalau yang menelponnya adalah Han Tae Joon. 
“ini ayahnya Jung Woo, Han Tae Joon. Bagaimana kalau kau menemuiku sebentar?, “ 
“ada apa?” tanya Soo Yeon.
“aku di parkiran di depan Belluz. Aku akan menunggu di dalam mobil.” Setelah berkata itu, Tae Joon, langsung menutup telepon.

Joo mendapat telepon dari polisi yang berjaga di luar Belluz, mereka memastikan kalau Tae Joon benar-benar berada di depan Belluz.

Soo Yeon mengatakan kalau dia ingin menelpon Jung Woo terlebih dulu, sebelum dia menemui ayahnya. Joo pun mengingatkannya kalau ini lah kesempatan mereka untuk menangkap tae Joon  dan Hyung Joon.
Jung Woo berada di kantor polisis, Ketua Tim dan detektif lainnya sedang sibuk, menyelidiki mobil yang dipakai Hyung Joon, sedangkan Jung Woo  mendapatkan sebuah paket dari Hyung Joon yang di dalamnya berisi buku akutansi dan catatan keuangan dengan dua buah flashdish.
Jung Woo mengangkat telepon dari Soo yeon, Soo Yeon langsung mengatakan kalau ayah Jung Woo sekarang ada di depan Belluz menunggu dirinya. Jung Woo menyuruh Soo Yeon untuk tidak kemana-mana, tapi Soo yeon menyakinkan Jung Woo kalau tidak akan terjadi apa-apa padanya, karena ada Joo bersama dengannya. Soo Yeon berniat menemui Tae Joon.

“kau tak boleh melakukannya, aku sudah mendapatkan jurnal ayahku. Itu artinya ayahku sudah tidak berarti baginya. Sekarang giliranmu” cegah Jung Woo.

“Dia terluka, jika kita kehilangannya sekarang, kita tak tahu  sampai berapa lama.” Soo Yeon terus meyakinkan Jung Woo, namun  Jung Woo tetap tidak mengizinkan Soo Yeon melakukan itu. “Joon pun, dia pasti mau ditangkap olehmu bila dia tertangkap. Cepatlah datang.”

Soo Yeon langsung menutup teleponnya, dan Jung Woo dengan cemas langsung pergi ke tempat Soo Yeon. 
Soo Yeon dengan beraninya menemui Tae Joon. Soo yeon menawari Tae Joon untuk masuk ke Belluz. Dengan alasan karena polisi berada dimana-mana, Tae Joon mengajak Soo Yeon bicara di dalam mobilnya. Soo Yeon pun menurutinya, setelah Soo Yeon masuk, Tae Joon membawa Soo Yeon pergi, Joo dan polisi lainnya yang sudah bersiap-siap, langsung mengikutinya. 
Soo Yeon bertanya pada Tae Joon, mau kemana mereka. Tak menjawab, Tae Joon malah memuji keberanian Soo Yeon, mungkin itu karena Soo Yeon adalah anak Lee Tae Soo, “kau tahu siapa yang akan kau temui, tapi kau tetap ikut tanpa takut sedikitpun.” 

“karena kau seperti ini, sepertinya kau takkan bertemu dengan Jung Woo lagi,” ucap Soo Yeon.
Tae Joon menjawab, kalau hubungan antara ayah dan anak tidak akan semudah itu berakhir, “jika Lee Tae Soo mati, apa kau bukan putrinya lagi? “
Soo Yeon menjawab kalau saat dia membuang abu ayahnya, dia memang menangis. Tapi itu bukanlah menangis sedih, tapi karena Soo Yeon merasa hidup kembali, “apa kau mau Jung Woo berakhir seperti aku?”

Tidak menjawab, Tae Joon melihat ke kaca mobilnya dan dia melihat kalau mereka sedang diikuti. Tanpa sepengetahuan Tae Joon, Soo Yeon mengaktifkan GPS yang diberikan Jung Woo padanya. 
“jika kau dan Hyung Joon diam-diam menghilang, semuanya akan kembali seperti semula,” 
“Jika kau membawaku pada Kang Hyung Joon, berapa banyak yang dia bayar untukmu?” tanya Soo Yeon.
“Tutup mulutmu, “ perintah tae Joon.
“Aku merasa kasihan pada Jung Woo, tapi dia biilang, dia merasa kasihan padamu, kumohon demi Jung Woo, sekali saja demi kebaikan JungWOo, sekarang tolong hentikan sampai disini,”

Tepat dibelokan, setelah Tae Joon belok, melintaslah sebuah truk yang menghalangi jalan Joo, dengan cepat Joo turun dari mobilnya, dan menyuruh polisi lainnya menangkap sopir truk itu yang memang anak buah Tae Joon.
Joo berlari ke mobil Tae Joon,yang didalamnya sudah tidak ada Soo Yeon lagi, hanya ada tae Joon yang tersenyum penuh kemenangan disana. Karena  Soo Yeon sudah dibawa ke mobil Hyung Joon. Joo langsung menyuruh detektif Yoon menangkap Tae Joon, kemudian dia menelpon Jung Woo dan menanyakan keberadaannya. 

Jung Woo mendapatkan jejak Soo Yeon, Jung Woo pun menyuruh Joo menyiapkan kendaraan untuk mengikutinya. 
Jung Woo sampai ditempat, dimana petunjuk yang dibawa Soo Yeon berada. Dan ternyata tempat itu adalah gedung dimana dia dan Soo Yeon muda dulu di sekap.
Melihat gudang itu, Jung Woo teringat kejadian malam itu 14 tahun yang lalu, saat Soo Yeon sudah tidak berdaya dan terus memanggil namanya, bukannya menolong Soo Yeon, Jung Woo malah melarikan diri.

Jung Woo berjalan mendekati gudang itu, dalam hati ia berkata, “aku sudah memimpikan ini ribuan kali, mencarimu...  kembali lagi ke tempat ini.”
“Soo Yeon,” panggil Jung Woo yang langsung membuka pintu gudang itu.


 

Posts Comments

©2006-2010 ·TNB